Home Berita Arah Program BKsPPI Periode 2017-2022
Arah Program BKsPPI Periode 2017-2022

Arah Program BKsPPI Periode 2017-2022

0
0

Dalam  sambutan peresmian pengurus BKsPPI periode 2017-2022,  Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS., sebagai Ketua Umum menyampaikan 5 (lima) program pokok  untuk  BKsPPI lima tahun ke depan, yaitu:

  1. Budaya Ilmu

Budaya ilmu ini diharapkan agar BKsPPI ke depan mengembangkan berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman secara luas dan mendalam, melalui pengkajian kitab kuning (turats), dan juga kitab pemikiran kontemporer.  Rasulullah ﷺ bersabda,

“Jadilah kamu orang mengajarkan ilmu, atau orang yang mencari ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah kamu menjadi golongan yang ke lima, sebab kamu akan celaka.”

Hadits ini menegaskan keharusan setiap orang berperan dalam pembangunan peradaban ilmu itu. Dan pilihannya hanya ada empat. Pertama, menjadi ulama yang membagikan ilmu. Kedua, menjadi penuntut ilmu yang tekun dan serius. Ketiga, menjadi pendengar ilmu di waktu-waktu senggang bagi orang yang sibuk. Dan terakhir, menjadi pecinta ilmu dengan membantu orang lain dalam mencari ilmu, baik dengan memberi bantuan harta atau hal yang lainnya. Dan inilah yang terjadi pada masa jaya kaum muslimin dahulu. Semua pihak memiliki peran masing-masing dalam menegakkan peradaban.

Budaya ilmu ini akan melahirkan ulama masa depan yang responsif dan solutif terhadap tantangan zaman, sehingga problem keumatan terselesaikan dengan mudah dan tuntas. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

يَحْمِلُ هَذاَالدِّيْنَ فِى كُلِّ قَرْنٍ عُدُوْلٌ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَأْوِيْلَ اْلمُبْطِلِيْنَ وَتَحْرِيْفَ اْلمُغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ اْلجَاهِلِيْنَ كَمَا يَنْفِى اْلكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.(روه البخارى).

Islam pada setiap kurun waktu akan dipikul oleh ulama yang adil, sehingga lenyap segala syubhat  kebathilan, meluruskan penyimpangan orang-orang yang ekstrim,  mengikis kebodohan orang-orang yang jahil, sebagaimana tukang pandai besi membersihkan besi yang berkarat.”(HR. Bukhari)

 

أَلاَّ أُخْبُرُكُمْ ِباْلفَـقِيْهِ حَقَّ اْلفَقِيْهِ؟ مَنْ لَمْ ُيـقَنِّـطُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ   وَلَمْ يُؤَمِّـنْهُمْ مِنْ عَذَابِ اللهِ  وَلَمْ يُرَحِّصْ لَهُمْ فِى مَعاَصِى اللهِ  وَلَمْ يَـتْرُكِ اْلقُرْأَنَ رَغْـبَةً عَنْهُ  ِإلَى غَيْرِهِ . أَلاَلاَخَيْرَ فِى عِلْمٍ لَيْسَ فِيْهِ تَـفَهُّمٌ.  أَلاَ  لاَخَيْرَ فىِ قِرَاءَةٍ  لَيْسَ فِيْهَا تَدَبُّرٌ.  أَلاَ لاَخَيْرَ فِى عِبَادَةٍ  لَـيْسَ فِيْهَا تَـفَكُّرٌ.(رواه  الدارمى).

Inginkah, aku ceritakan kepada kalian, orang fakih yang benar-benar fakih (ulama yang ulama)?. Mereka adalah orang-orang yang memotivasi umat, sehingga umat tidak putus harapannya dari rahmat Allah, umat tidak merasakan aman dari adzab Allah, umat tidak pernah maksiat kepada Allah, umat tidak pernah berhenti mencintai Al-Quran. Ketahuilah! Tidak ada sedikit pun kebaikan ilmu, yang tidak dimengerti umat. Ketahuilah! Tidak ada sedikitpun kebaikan dari bacaan Al-Quran yang tidak direnungkan (isinya). Ketahuilah! Tidak ada sedikitpun kebaikan dari ibadah yang tidak disertai tafakkur (merenungkan ayat-ayat Allah). (HR. Darimi)

 

  1. Budaya Adab

Dalam lingkungan pesantren, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan, di mana kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan tanpa petunjuk arah. Dengan demikian peran BKsPPI adalah mensinergikan ilmu dan adab, sehingga  ruh keilmuan pesantren tetap terjaga, karena berilmu tanpa adab adalah dimurkai (al-Maghdhubi ‘alaihim), sementara beradab tanpa ilmu adalah kesesatan (al-Dhallin).

التوحيد يوجب الإيمان, فمن لا إيمان له لا توحيد له, والإيمان يوجب

الشريعة, فمن لا شريعة له لا إيمان له ولا توحيد له, والشريعة توجب

الأدب, فمن لا أدب له لاشريعة له ولا إيمان له ولا توحيد له.

Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid dan syariat mewajibkan adanya adab maka barangsiapa yang tidak beradab maka (padahakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.)

 

Lebih dari itu, ilmu dan adab adalah inti dari ilmu nafi’ yaitu  yang bermanfaat. Ilmu nafi’ ini adalah  ilmu yang pernah diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar diminta dan dicari setiap saat. Allah ﷻ berfirman dalam Surat Thaha [20] ayat 114:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, wahai Robbku tambahkanlah ilmu kepadaku.”

Melalui ayat ini, Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah tambahan ilmu yang bermanfaat. Ibn Uyainah berkata: “ Rasulullah ﷺ tidak henti-hentinya memohon tambahan ilmu nafi’ kepada Allah sampai beliau wafat”.[1] Ibn Katsir menambahkan, bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah diperintahkan untuk meminta tambahan apapun kecuali tambahan ilmu nafi’ ini, oleh karena itu Rasulullah ﷺ senantiasa istiqamah melantunkan do’a ilmu nafi sebagaimana berikut ini :

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ  وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ

“Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah senantiasa membaca do’a: “ Ya Allah berikanlah manfaat terhadap apa yang telah engkau jarkan kepadaku, dan ajari aku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu, segala puji hanya milikmu atas segala keaadaan, dan aku berlindung dari perilaku ahli neraka.” (HR. At-Tirmidzi dan Bazzar)

Ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’)  akan mendatangkan iman. Realisasi iman akan membawa pada amal shaleh. Integrasi keduanya akan membawa ke jalan yang lurus (Shirath al-Mustaqim). Dengan demikian, bila ilmu didapatkan akan  tetapi tidak diikuti dengan amal shaleh, bisa digolongkan kepada ilmu yang tidak bermanfaat (ghairu nafi’) dan bahkan termasuk dalam  perbuatan munafik.

Ilmu yang bermanfaat selanjutnya akan mendatangkan rasa takut kepada Allah (khasyyah) sehingga  dapat mendekatkan pemiliknya  kepada Allah ﷻ dan pemiliknya disebut ‘alim atau ulama.  Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Fathir [35] ayat 28:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah dari hambanya adalah para ulama (orang yang berilmu), sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.”

  1. Budaya Dakwah

Pesantren  dan dakwah adalah dua hal yang tak terpisahkan. Dakwah merupakan bagian pengabdian pesantren untuk  membangun  masyarakat  ke arah yang lebih baik, dan menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Dakwah merupakan ruh kehidupan agama Islam. Islam tidak akan tegak tanpa dakwah. Dengan dakwah  ini, semua perkara yang ma’ruf akan terealisasikan, demikian juga perkara yang munkar akan terhapuskan. Jika amar ma’ruf dan nahi munkar tegak di tengah-tengah masyarakat, berarti tatanan kehidupan  bermasyarakat akan tegak dibangun di atas aturan Allah, sehingga tatanan kehidupan masyarakat yang Islami akan terwujud nyata.

Perkara amar ma’ruf dan nahi Munkar  menempati kedudukan yang agung. Para ulama menganggapnya sebagai penopang rukun-rukun Islam. Sesungguhnya Allah telah mengedepankan perkara ini atas keimanan dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

 

Untuk itu, BKsPPI harus berperan aktif untuk mengawal program dakwah di tengah-tengah masyarakat, sampai terbentuknya realitas sosial baru, yaitu masyarakat Islami yang mengemban amanah Allah sebagai khalifatullah di muka bumi.

 

  1. Budaya Mandiri

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah terbukti mandiri dalam segala hal. Baik dari segi pembiayaannya, maupun pengaturan kurikulumnya, tanpa  terkooptasi dari kepentingan-kepentingan eksternal pesantren  dan intervensi pihak manapun, sehingga dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada pihak  lain.

Keberhasilan di atas, tidak dapat dilepaskan atas nilai-nilai hidup yang dipelihara dan ditanamkan kiai pengasuh pesantren kepada para santrinya. Salah satu nilai yang menjadi ciri khas pesantren dan sekaligus sangat mempengaruhi keberlangsungannya adalah kemandirian.

Kemandirian merupakan sifat yang ditunjukkan untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain, sehingga pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan, tumbuh dan berkembang dengan mengandalkan atas kemampuan sendiri, tanpa tergoda oleh kepentingan-kepentingan pragmatis yang akan merusak orisinalitas  kekhasan pesantren.

Dalam rangka menjaga kemandirian pesantren, BKsPPI harus berperan aktif menjaga warisan budaya mandiri ini, dengan membuat program-program untuk mendukung kemandirian pesantren, sehingga pesantren merdeka dalam mengatur program-progamnya, tanpa bergantung kepada  lembaga lain.

 

  1. Budaya Amal Jama’i (taawun)

Sebagai pusat socio-cultural religious ummat Islam, pesantren menyatu dengan masyarakat, sehingga memunculkan jiwa ta’awun, gotong-royong, peduli sosial, kekeluargaan, persatuan, persaudaraan.

Dari sini, penting bagi BKsPPI  untuk membudayakan amal jama’i, yakni berjama’ah dalam kebaikan, bersinergi keumatan, saling bahu membahu dalam kebajikan. Mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi dan golongan, sehingga sifat empati (itsar) mendarah daging pada diri setiap muslim, membumi pada tatanan sosial kemasyarakatan, sehingga tercapai tatanan masyarakat ideal, harmonis dan Islami.

Tugas kita sekarang, membangun secara serius hubungan persaudaraan antara sesama kaum muslimin dengan mengedepankan titik-titik persamaan dan membuang jauh-jauh berbagai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya setiap orang yang beriman itu adalah bersaudara, walaupun mungkin terjadi berbagai perbedaan, seperti dinyatakan dalam QS. 49 : 10. Jika umat Islam terus-menerus bertentangan dan berpecah-belah satu dengan yang lainnya, maka yang terjadi adalah kegagalan  dalam perjuangan dan hilangnya kekuatan umat. Perhatikan firman-Nya dalam QS. Al-Anfal [8] ayat 46: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nyadan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

[1] – Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, Dar Al-Thaibah, 2002, Vol.5, hlm.319

tags:

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BKsPPI

Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia