Home Organisasi Sambutan Ketua Umum BKsPPI pada Acara Pelantikan Pengurus BKsPPI Wilayah Jabar
Sambutan Ketua Umum BKsPPI pada Acara Pelantikan Pengurus BKsPPI Wilayah Jabar

Sambutan Ketua Umum BKsPPI pada Acara Pelantikan Pengurus BKsPPI Wilayah Jabar

0
0

SAMBUTAN KETUA UMUM BKSPPI

PADA ACARA PELANTIKAN PENGURUS BKSPPI WILAYAH JABAR

BANDUNG, SELASA 23 RABIUL AWWAL 1439 H/12 DESEMBER 2017 M

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله ولا حول ولا قوة إلا بالله

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
Yth. Almukarram Bapak Gubernur Jawa Barat: Dr. (HC) Ahmad Heryawan, Lc., M.A.

Yth. Almukarram Ketua MUI, Kakanwil Kemenag Jawa Barat, serta para pejabat di lingkungan pemda Jabar

Yth. Para pimpinan ormas-ormas Islam wilayah Jawa Barat

Yth. Al-Mukarramun para pengurus BKSPPI: Dewan Penasehat, Dewan Pembina dan Dewan Pengurus.

Yth. Al-Mukarramun para alim ulama, pimpinan pondok pesantren se-Wilayah Jawa Barat dan secara khusus para calon pengurus BKSPPI wilayah Jawa Barat beserta para hadirin/hadirat yang kami hormati

 

Alhamdulillah dengan izin dan ridlo Allah SWT pada hari ini kita dapat bersillaturrahmi di kediaman dinas Bapak Gubernur Jawa Barat Gedung Pakuan, dalam rangka Pelantikan Pengurus BKSPPI Wilayah Jawa Barat periode 1439 sd 1444 H / 2017 sd 2022 M.

 

Shalawat dan salam semoga tercurah dan terlimpah pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya dan semoga terlimpah serta tercurah pada kita semua. Aamien

 

Bapak Gubernur dan Para hadirin Yth.

Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa Pondok Pesantren adalah sebuah lembaga Iqomatuddin, lembaga perjuangan menegakkan ajaran Islam. Baik melalui kegiatan pendidikan, kegiatan sosial ekonomi, bahkan juga kegiatan politik. Sebab para kiai dengan para santrinya dahulu, disamping sebagai murabbi, sebagai muallim, sebagai ustadz dan dai yang membimbing umat dalam bidang kehidupan keagamaan, juga sebagai pejuang yang terlibat aktif dalam merebut kemerdekaan dari penjajah, sehingga terbentuk NKRI yang kita cintai. Bagi para kiai dan para santri ketika itu merebut kemerdekaan adalah bagian dari panggilan akidah, panggilan dari Tauhid dan keimanan lepada Allah SWT.

Agama dan ajaran Islam telah masuk ke dalam struktur ruhani dan kepribadian bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Bahkan para pendiri negara ini tidak ragu-ragu untuk menempatkan kata-kata Allah dalam mukaddamah Undang-Undang Dasar 1945, pada alenia ketiga: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Karena itu, sesungguhnya agama asli bangsa Indonesia itu adalah agama Islam.

Perjuangan para kiai dan para santri tersebut merupakan pengejawantahan firman Allah dalam QS. At-Taubah [9] ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ. ﴿البقرة: ١٢٢﴾.

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 122).

 

Bapak Gubernur dan Para hadirin Yth.

Badan Kerjama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) sebagai lembaga yang didirikan oleh para ulama dan para tokoh umat dan bangsa memiliki visi dan misi untuk melakukan koordinasi, taawun, sinergi antar pondok pesantren untuk menguatkan kepribadian pondok pesantren yang sudah lama dibangun oleh para ulama salafus shalih terdahulu. Yaitu antara lain. Pertama Akhlak dan Adab. Budaya Adab dan akhlak adalah dua hal yang sangat utama di Pondok pesantren. semua proses belajar mengajar yang berlangsung berlandaskan pada akhlak dan adab (الأدب قبل العلم، تأدبوا ثم تعلموا). Kedua: Budaya ilmu. Budaya yang menghadirkan kecintaan pada ilmu. Terkenalah di pesantren sebuah hadits Nabi SAW:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلاَ تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلَكَ. {رواه البيهقى}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Jadilah engkau seorang yang alim (pengajar), atau menjadi orang yang belajar, atau menjadi pendengar, atau menjadi orang yang cinta (terhadap) ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka engkau akan celaka”. (HR. Baihaqiy).

Ketiga, budaya ukhuwwah dan jamaah. Membangun suasana yang kondusif untuk membiasakan berjamaah baik dalam bidang ibadah maupun dalam bidang muamalah. Keempat, Budaya dakwah amar makruf Nahyi munkar untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dengan pendekatan hikmah dan keteladanan. Kelima, Budaya mandiri dalam memenuhi kebutuhannya sekaligus mengajak bersikap mandiri pada masyarakatnya. Karena itu dalam menguatkan budaya-budaya tersebut BKSPPI menekankan arti pentingnya taawun dan sinergi baik antar pondok pesantren maupun dengan komponen umat yang lain yang memiliki cita-cita yang sama dengan BKSPPI.

Bapak Gubernur dan para hadirin Yth.

Salah satu keberhasilan Pondok Pesantren dalam melakukan kegiatan pendidikan, adalah melahirkan para alim ulama waratsatul anbiya. Dan kalau kita memperhatikan Al-Quran, kita akan mendapatkan dua ayat yg secara eksplisit dan manthuq memuat kalimat Ulama yaitu surat Asy-Syuara [26] ayat 197 dan surat Faathir [35] ayat 28, serta satu ayat yang tidak secara eksplisit memuat kata ulama tetapi berkaitan dengan Tafaqquh Fid Dien  yaitu surat At-Taubah [9] ayat  122 yang saya bacakan tadi.

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ. ﴿الشعراء: ١٩٧﴾.

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 197).

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ. ﴿فاطر: ٢٨﴾.

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28).

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ. ﴿التوبة: ١٢٢﴾.

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah [9]: 122).

 

Dalam pemahaman saya ketiga ayat tersebut memuat kriteria ulama atau memuat sifat dan karakter utama yang harus dimiliki oleh para Ulama. Disamping tentu ditunjang oleh berbagai hadits tentang ulama.

Pertama, Ulama itu harus Mutafaqqieh Fid Dien atau Fiqhuddien. Memahami ilmu agama secara mendalam sehingga menjadi rujukan masyarakat untuk bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan  mereka. Ulama adalah sosok yang dekat dengan masyarakat. Ulama adalah orang-orang yang dipercaya oleh masyarakat.

Kedua, Ulama itu adalah sosok yg memahami perkembangan zaman perkembangan keadaan dalam berbagai bidangnya dengan berbagai sisinya baik sisi positif yang memberikan harapan maupun sisi-sisi negatif yang menghawatirkan (العلماء أهل زمانه) demikian tulis Imam Al-Baihaqi dalam kitab Dalaailun Nubuwwah (دلائل النبوة) ulama adalah sosok yg memiliki Fighun Naas (فقه الناس) dan Fiqhul Waaqi’ (فقه الواقع).

Ketiga, Ulama itu adalah sosok yg memiliki akhlakul karimah, memiliki integritas pribadi yang kuat. Menjadi panutan umat dalam tingkah laku kesehariannya. Umat bukan sekedar melihat pandangan dan opininya akan tetapi juga melihat perilaku kesehariannya. Tidak ada gap antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Pikirannya lurus, aqidahnya benar, ucapannya terstruktur bermuatan yang hak dan berpihak pada yang hak. Jauh dari ucapan yang menyakitkan, memfitnah dan mengadu domba.  Mari kita renungkan sebuah hadits yang berisikan warning dari Rasulullah SAW.

عَنْ عَلِي بن أَبِي طَالِب، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الْإِسْلاَمِ إِلاَّ اِسْمُهُ، وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ، مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خِرَابٌ مِنَ الْهُدَى، عُلَمَاؤُهُمْ شَرٌّ مِنْ تَحْتِ أَدِيْمِ السَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ ». {رواه البيهقي}.

“Dari Ali bin abi Tholib ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Akan datang pada ummatku suatu zaman, yang tidak tersisa dari dari islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari alqur’an kecuali tulisannya, masjid mereka ramai akan tetapi sepi dari petunjuk, ulama mereka sejelek-jelek manusia dikolong langit, darinya keluar fitnah dan kepada mereka fitnah tersebut kembali.” (HR. Baihaqi).

 

Bapak Gubernur dan para hadirin Yth.

Dengan ketiga kriteria tersebut di atas, para ulama, termasuk para kyai pondok pesantren memiliki tiga peran yang sangat penting. Pertama, Himayah wa Taqwiyyah ad-Dien (حماية وتقوية الدين) menjaga dan memelihara agama dari paham-paham dan pemikiran-pemikiran yang menyesatkan. Misalnya MUI telah menetapkan dalam fatwanya No.7 tahun 2005, bahwa ada tiga paham pemikiran yang dianggap berkaitan dengan keislaman yang sangat membahayakan, yaitu SEKULARISME, LIBERALISME, DAN PLURALISME.

Sekularisme bermakna agama dipisahkan dari kehidupan, agama hanya ditempatkan pada urusan pribadi, ditempat-tempat tertentu dan waktu-waktu tertentu. Agama tidak boleh hadir di pasar pada kegiatan ekonomi, tidak boleh hadir di gedung birokrasi, tidak boleh hadir di kampus dan lembaga-lembaga pendidikan. Padahal Islam adalah agama yang syumuliyyah mencakup semua bidang kehidupan, agama yang akan memberikan keselamatan dunia dan akhirat.

Liberalisme menempatkan akal di atas wahyu dan berfikir tentang keagamaan yang tidak diikat oleh landasan keilmuan dan tidak diikat oleh norma-norma yang baku.

Pluralisme adalah paham yang menyatakan semua agama sama dan tidak ada kebenaran mutlak, semua kebenaran bersifat relatif. Semua pemikiran tersebut sangat membahayakan bagi perkembangan kehidupan agama. Seperti yang kita rasakan sekarang ini. Para ulama dan pondok pesantren harus pro aktif di dalam menjelaskan Islam sebagai agama yang syumuliyyah. Agama yang akan membawa kebahagiaan pribadi, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa.

Perlu diketahui juga bahwa Majelis Ulama Indonesia telah menetapkan 10 kriteria aliran sesat, seperti perbedaan dalam rukun iman, rukun Islam, mentafsirkan Al-Qur’an tanpa aturan, mencaci maki Nabi dan para sahabat, atau mengakui adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Pondok pesantren harus menjadi garda terdepan dalam menjaga masyarakat terhadap aliran sesat dan menyesatkan.

Kedua, Himayah wa Taqwiyyah al-Ummah (حماية وتقوية الأمة) dalam pengertian menjaga dan memelihara umat, agar terjaga aqidahnya, syari’ahnya, maupun akhlaqknya. Negara kita memang bukan negara agama, bukan pula negara sukuler. Akan tetapi negara yang menghormati ajaran agama. Yang sekaligus mendorong masyarakat untuk melaksanakan ajaran agama dalam semua tatanan kehidupan. Bagi umat Islam kondisi ini seharusnya menjadi peluang untuk mewujudkan ajaran Islam dalam semua bidang kehidupan. Pendidikan yang islami, ekonomi yang islami, politik yang islami, seosial budaya yang islami, dan kehidupan lain yang islami. Kita yakin dengan seyakin-yakinnya keberkahan akan diturunkan dari langit dan dimunculkan dari bumi, ketika masyarakat beriman dan bertaqwa pada Allah SWT. Firman-Nya dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 96.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ. ﴿الأعراف: ٩٦﴾.

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 96).

Ketiga, Himayah wa Taqwiyah ad-Daulah (حماية وتقوية الدولة) menjaga dan menguatkan Negara. Keutuhan NKRI dalam bingkai kebhinekaan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 adalah merupakan sebuah keniscayaan sekaligus sebuah kebutuhan. NKRI adalah warisan para syuhada, para alim ulama, para pejuang, sekaligus para pendiri republik ini. NKRI harus kita jaga agar tetap utuh dan kita jaga dari rongrongan kelompok-kelompok dalam maupun luar negeri yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa dan sekaligus ingin mengambil keuntungan material dari alam yang subur di negara kita.

Dalam pada itu kesatuan dan persatuan umat Islam Indonesia merupakan sesuatu yang terus menerus dipertahankan dan diperjuangkan. Tidak ada alasan untuk berpecah belah apalagi hanya karena masalah-masalah furuiyah yang seharusnya sudah kita tinggalkan. Kesatuan dan persatuan umat Islam akan punya pengaruh yang sangat besar terhadap keuntungan bangsa dan negara.

Para kyai pondok pesantren dan terutama yang tergabung dalam BKSPPI harus menjadi pelopor dalam kesatuan dan persatuan umat.

 

Bapak Gubernur dan para hadirin Yth.

Program kerja dan amaliah BKSPPI, baik pusat maupun wilayah tidak lepas dari kelima budaya pesantren, dan tiga fungsi ulama tersebut di atas. Saya mengajak pada semua jajaran pengurus dan pimpinan pondok pesantren untuk terus menerus berkiprah meneruskan amaliah para alim ulama salafusshalih terdahulu, menjaga umat dari berbagai macam musibah, terutama musibah agama. Kerjasama dengan pemerintah dalam bingkai amar makruf nahyi munkar merupakan sebuah keniscayaan dan sekaligus kebutuhan. Kerjasama dengan seluruh pondok pesantren, organisasi Islam, dan simpul-simpul umat lainnya harus kita galakkan. Sillaturrahim, baik secara fisik bertemu secara langsung maupun sillaturrahim dalam bentuk pertukaran pendapat, pemikiran, dan amaliah bersama harus kita lakukan secara terus menerus.

Mudah-mudahan Pelantikan Pengurus BKSPPI wilayah Jawa Barat Periode 2017 – 2022, akan memberikan dampak positif bagi kesatuan dan persatuan para ulama, para pimpinan pondok pesantren, para santri, dan sekaligus masyarakat secara luas, khususnya di wilayah Jawa Barat yang religius dan memiliki banyak pondok pesantren. Pengurus BKsPPI wilayah Jawa Barat diharapkan memiliki data yang konkrit tentang jumlah pondok pesantren wilayah Jawa Barat dengan berbagai macam bentuk dan tingkatannya.

Akhirnya saya ucapkan pada pengurus baru BKSPPI wilayah Jawa Barat Periode 2017-2022 yang baru saja dilantik, selamat bekerja. Mudah-mudahan akan menjadi amal shalih yang abadi di hadapan Allah SWT.

Kami ucapkan terima kasih pada Bapak Gubernur dan rengrengan pemda Jawa Barat yang telah memfasilitasi kegiatan pelantikan pada hari ini. Juga kami sampaikan terima kasih pada pimpinan ormas yang sudi hadir memenuhi undangan kami. Kami mohon Bapak Gubernur memberikan nasihat dan arahannya kepada para pengurus BKsPPI dan kami semua yang hadir pada saat ini.

Kami juga menyampaikan permohonan maaf, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati bapak/ibu sekalian yang hadir pada hari ini.

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير ولاحولا ولاقوة إلا بالله العلي العظيم

والله أعلم بالصواب

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BKsPPI

Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia