Home Profil

Profil

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين سيدنا محمد وعلى آله و صحبه أجمين، و بعد.

Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) didirikan 20 Muharram 1392 H/ 05 Maret 1972 M oleh para ulama, tokoh pergerakan umat Islam dan perjuangan serta para sesepuh ulama pondok pesantren antara lain: DR. Mohammad Natsir (Jakarta), KH. Sholeh Iskandar (Bogor), KH. Noer Ali (Bekasi), KH. Choer Affandy (Tasikmalaya), KH. Abdullah Syafi’i (Jakarta), KH. Abdullah Bin Nuh (Bogor), KH. Dr.EZ. Muttaqien (Bandung), KH. Abdul Halim (Cianjur), KH. Hasan Natsir (Jakarta), dan KH. Tb.Hasan Basri (Bogor).

Lahirnya Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI) bertujuan untuk membina ukhuwwah, ta’âwun dan takâfful (saling menanggung) antar pondok pesantren, guna mewujudkan pendidikan dan pembangunan dînul Islam dalam arti seluas-luasnya yang memiliki fungsi antara lain: Sebagai pembina, penghubung, perwakilan dan pemersatu untuk dan antar pondok pesantren. Sebagai lembaga konsultasi, untuk dan antar pondok pesantren serta masyarakat lingkungannya.

Latar belakang lahirnya BKsPPI berawal dari pemikiran bahwa (a) pesantren adalah lembaga iqâmatuddin, lembaga perjuangan, lembaga pendidikan dan pengajaran sekaligus lembaga pelayanan pada masyarakat. Peran pesantren yang sangat signifikan telah mempertahankan negara dan ikut serta mengisi kemerdekaan dengan keterlibatan pondok pesantren dalam bidang pendidikan dan sosial. (b) Peran pesantren yang besar itu, didasari oleh nilai-nilai yang ditumbuh-kembang-kan dalam kehidupan pondok pesantren (kiyai, guru, santri, orang tua santri maupun masyarakat sekitar), yang antara lain memiliki sifat keikhlasan, kesederhanaan, kebersamaan, kemandirian dan kesungguhan. (c) Berbagai faktor yang terjadi bagi kehidupan umat Islam (internal maupun eksternal) seperti globalisasi dan terjadinya pergeseran-pergeseran dalam dunia pesantren dengan berbagai dampaknya. Kecenderungan pondok pesantren berjalan sendiri-sendiri, kurang peduli pada pondok pesantren lainnya dan juga kurang peduli pada masyarakat sekitarnya. Dilatar belakangi fakta historis, bahwa para ulama di Indonesia adalah lulusan pesantren, namun sejak masa pendudukan Jepang (1942 M), pesantren telah membuka isolasinya yang menyebabkan sebagian ulama alih profesi menjadi tenaga pembentukan Pembelaan Tanah Air (PETA), dan menjadi Tentara Hizbullah serta gerakan-gerakan lain yang muncul sa’at itu. Pada masa perang kemerdekaan (1945-1950M) banyak pesantren yang menjadi markas perjuangan, sehingga banyak ulama yang gugur menjadi syuhada, akhirnya pesantren banyak kehilangan pemimpinnya. Tidak hanya itu, pada masa kemerdekaan banyak ulama yang ikut bagian dalam membangun negara.

Kehidupan global saat ini banyak meninggalkan pergeseran nilai, dari konflik ideologi dan politik ke arah persaingan, investasi dan informasi. Batas-batas geografis hampir kehilangan arti operasionalnya, sehingga terciptanya budaya dunia yang cenderung mekanistik, kompetitif, tidak menghargai nilai dan norma yang secara ekonomi tidak efisien.

Globalisasi menyisakan dampak-dampak negatif bagi perkembangan etika moral masyarakat. Pengaruh arus informasi yang deras tanpa batas dan mudah diakses baik melalui internet, handphone, dan media sosial lainnya, telah menjadikan anak-anak negri ini tidak tumbuh sesuai fitrahnya.

Gelombang dekadensi moral semakin meningkat. Hal itu tergambar dengan jelas betapa merosotnya akhlak sebagian umat Islam Indonesia saat ini terutama di kalangan remaja. Gaya hidup instan, hedonis, dan pragmatis, sudah menjadi hal biasa dikalangan masyarakat. Sementara pembendungannya masih sangat lemah dan dengan konsep yang tidak jelas. Padahal, kejayaan suatu bangsa itu ditentukan oleh moralnya, sebagaimana sya’ir berikut ini :
وإنما الأمم الأخلاق ما بقيت * فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا
“Sesungguhnya umat suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlaknya, jika akhlak telah hilang dari mereka maka hilang pula kejayaannya.”

Selain itu pergaulan global berdampak secara langsung pada pemiskinan nilai spiritual, sehingga mengubah manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material, peran agama digeser menjadi urusan akhirat sedang urusan dunia menjadi urusan sains (sekularistik), yang pada akhirnya manusia terjangkiti frustasi eksistensial, yang biasanya tercermin dalam perilaku sosial yang hampa, krisis makna, mudah stres dan depresi.

Belum lagi arus ghazw al-fikr yang begitu deras membanjiri akidah umat Islam. Mulai dari paham liberalisme, sekularisme, ateisme, sampai komunisme yang mencoba bangkit secara serentak mengepung umat Islam.

Hegemoni ghazw al-fikr ini, telah terbukti membawa dampak yang serius dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Berbagai keanehan dan kemunkaran dalam dunia ilmu keislaman telah bermunculan dari tubuh berbagai perguruan tinggi Islam. Tidak sedikit orang-orang yang berlajar ilmu-ilmu Islam kemudian justru menjadi penentang Islam yang tangguh dan aktif melakukan dekonstruksi (penghancuran) konsep-konsep dasar Islam. Kemunkaran ilmu bukanlah kemunkaran yang ringan, karena berdampak sangat serius dalam amal perbuatan.

Fenomena ini serupa dengan “kekacauan ilmu”, atau lebih tepatnya dikenal dengan istilah kanker epistemologis, yang berdampak pada sikap skeptis dan paham relativistik. Kanker epistemologis tersebut bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dalam sabdanya:
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir dekat masanya di mana bangsa-bangsa akan menyerbu kalian seperti orang-orang yang makan menyerbu sebuah hidangan.” Ada seseorang yang bertanya: “Apakah itu disebabkan jumlah kami sedikit di masa itu?” Beliau menjawab: “Justru jumlah kalian banyak, akan tetapi banyaknya kalian seperti buih di lautan. Allah pasti mencabut dari hati musuh kalian keseganan terhadap kalian, dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian wahn.” Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa wahn itu?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud)

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ اْلعِلْمُ وَيُظْهَرَ اْلجَهْلُ وَيُفْشَوْ الزِّناَ َويُشْرَبَ الْخَمْرُ ويُذْهَبَ الرِّجَالُ وَتبُقْىَ النِّسَاءُ حَتىَّ يَكُوْنَ ِلخَمْسِيْنَ ِامْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ. (متفق عليه عن أنس بن مالك رضي الله عنه).
“Sebagian dari tanda-tanda kehancuran dunia adalah diangkatnya ilmu, dikokohkannya kebodohan, merajalelanya perzinahan (pelacuran), merebaknya narkoba, dan hilangnya peran laki-laki serta aktifnya peran perempuan, sehingga (akan terjadi) lima puluh wanita berbanding satu laki-laki”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a.).

لَتَرْكَبُنَّ سُنَنُ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ اْلقُذَةِ بِالْقُذَةِ: قَالُوْا: اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ:فَمَنْ؟
“Niscaya akan dirusak tradisi Islam sedikit demi sedikit: Shahabat bertanya: “Oleh Yahudi dan Nashrani?”. Sabda Nabi, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”.

Menghadapi fenomena seperti di atas, sudah tentu umat Islam, khususnya para ilmuwan Islam, tidak boleh tinggal diam. Dalam hal ini, kita sangat membutuhkan peran ulama dalam hadir untuk membimbing dan mengayomi umat, ke arah jalan yang benar dan lurus, karena tanpa ulama sudah dapat dipastikan kehidupan manusia laksana binatang.
لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم أي أنهم بالتعليم يخرجون الناس من حد البهيمة إلى حد الإنسانية
“Seandainya tidak ada ulama niscaya (kehidupan) manusia akan seperti binatang, maksudnya dengan sebab para ulama mengajar dan medidik, maka umat manusia akan dapat mengeluarkan tabia’at binantang manjdi jati diri manusia (yang sempurna)”.

إِنَّ اللهَ لاَ يَـقْبِضُ اْلعِلْمَ ِاْنتِــزَاعًــا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَــادِ وَلَكِنْ يَقْبْضُ اْلعِلْمَ ِبـقَبْضِ اْلعُلَمَــاءِ حَتىَّ ِإذَالَمْ يَـبْقَ عَـالِمٌ ِاتَّـخَذَ الناَّسُ رُؤُسًا جُهَلاَء فسُئِلوُاْ فَأَفْـتَوْ اِبغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّواْ وَأَضَلوُّا.(رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنه).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, tetapi hilangnya ilmu itu dengan sebab wafatnya para ulama. Sehingga jika tidak ada lagi satupun ulama, maka masyarakat akan mengangkat pemimpin yang bodoh. Masyarakat meminta fatwa kepada ulama (yang bodoh), lalu ulama bodoh itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari Muslim).

Untuk itu estafet kepemimpinan ulama harus terus dilakukan, karena kaderisasi sebagai supra struktur yang memilki peran penting terhadap suksesi kepemimpinan umat. Sejarah timbul dan tenggelamnya peradaban umat, memberikan pelajaran yang berharga tentang pentingnya kaderisasi.
Tujuan kaderisasi ulama pada dasarnya adalah untuk mempersiapkan calon ulama hingga menjadi ulama yang giat berdakwah mensyi’arkan Islam di tengah-tengah masyarakat.

الْعُلَمَاءُوَرَثَةُ اْلأَنبْياَءُوَإِنَّ اْلأَ نْبِياَءِلَمْ يُوْرَثوُا ِديْنَارًاوَلاَدِرْهَمًاوَلَكِنْ وُرِثُواْالعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَمِنْهُ فَـقَدْأَخَذَبِخَظٍّ وَافِر
“Ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak diwarisi dinar dan dirham (harta), namun mereka diwarisi ilmu. Barangsiapa yang mengambil imu dari padanya, maka ia memperoleh keuntungan yang banyak”. (HR. Bukhari).

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, yang secara eksistensial merupakan produk asli Indonesia, yang berperan aktif memajukan bangsa, menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan mampu merespon tantangan-tantangan zaman dengan sukses.

Sejarah telah membuktikan bahwa pesantren telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap kemerdekaan Indonesia yang melibatkan banyak kalangan Kyai, Ulama, Santri, dan umat Islam pada umumnya. Dari pulau Madura hingga Lebak di Banten, dan dari Tasikmalaya di Jawa Barat hingga Aceh di Sumatra. Kalangan santri yang dibesarkan di pesantren-pesantren di Jawa, maupun di surau-surau di Sumatra, berjuang gigih mengusir penjajah. Maka meskipun para penjajah menguasai Indonesia lebih dari 350 tahun, Indonesia tetap menjadi Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Bila dilihat dari perjalanan historis, pesantren dilahirkan atas kesadaran akan kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da’i, melalui sistem pengajian (muhadharah) yang menekankan pentingnya akhlak, di bawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang kyai dengan ciri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independen dalam segala hal. Hal itu sesuai firman Allah ﷻ dalam surat At-Taubah [9] ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ ﴿التوبة: ١٢٢﴾
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dinilai tidak kalah dengan lembaga pendidikan non-pesantren. Pembaharuan dan modernisasi merupakan konsekwensi dari tantangan zaman, meskipun demikian pesantren cenderung masih memiliki batasan-batasan yang khas, sehingga arah modernisasi tidak mengubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren. Hal ini bisa terlihat dari prinsip “al-Muhafazhah ’ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah”, (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang terbaik).

Berangkat dari pemikiran dan tanggung jawab tersebut, maka disusunlah Program Kerja Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia masa bakti 2017-2022, dengan harapan dapat menggerakkan kepemimpinan dan kelembagaan Pondok Pesantren yang dinamis, efektif dan efisien, sehingga mampu menjalankan misinya sebagai lembaga Iqomatuddiin, membimbing umat, mengajak dan mengarahkannya untuk senantiasa memperkokoh Aqidah Islamiyah dan menjalankan Syariah Islamiyah serta menghiasi dirinya dengan Akhlaqul Karimah di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

BKsPPI

Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia